Buku: The Female Brain – Because Girls Will Always Be Girls

Buku menggiurkan yang telah menggodaku sejak pertama kali mataku terarah kepadanya. Jatuh cinta pada pandangan pertama memang menakjubkan Ternyata setelah aku mengenalnya dengan lebih dekat, buku ini memang segar, cerdas, menghibur, nikmat dibaca, dan tentu saja pantas duduk di singgasana istimewa pada rak lemari perpustakaanku.
Penulisnya, Louann Brizendine, MD menyelesaikan pendidikannya di bidang neurobiology di UC Berkeley. Lulusan kedokteran Yale, meneliti studi pasca-sarjananya di UCL Philosophy of Mind and History of Science and Medicine, London, serta menyelesaikan masa pendidikan residensinya di Harvard Medical School. Pada UCSF Medical School, Dr. Brizendine aktif dalam masalah klinis, menulis, mengajar, dan melakukan studi riset. Dia adalah pelopor neuropsikiatri (saraf-jiwa) dan sekarang menjabat sebegai direktur di The Women’s Mood and Hormone Clinic yang didirikan pada tahun 1994. The Women’s Mood And Hormone Clinic adalah klinik pertama di Amerika yang khusus meneliti perempuan dari berbagai usia dalam berbagai bidang, dari urusan perasaan, kegelisahan, pertumbuhan, aktifitas seksual sampai pengaruh hormon pada otak.
Buku ini sangat menarik karena ditulis dengan gaya bahasa yang ringan, tidak teknis sehingga mudah dipahami oleh kaum awam. Contoh-contoh yang bertebaran di buku ini diambil dari pengalaman perempuan sehari-hari. Dr. Brizendine mengungkapkan berberbagai kenyataan fantastis tentang temuan kedokteran terhadap otak perempuan. Buku ini menjelaskan dengan ramah dan ringan tentang para tokoh hormon-hormon yang hidup dan mati dalam siklus kehidupan perempuan; yang ternyata sanggup memerintah, membajak, dan menguasai apa yang ingin dilakukan otak. Para tokoh-tokoh hormon ini menentukan pengarahan terhadap perilaku khas perempuan: pola pengasuhan, interaksi sosial, sifat seksual, serta agresifitas. Mereka mampu menjadikan perempuan sebagai manusia yang cerewet, berdandan serta genit, melindungi kanak-kanaknya, bersikap manja, menjaga perasaan sahabatnya, bermartubasi, bersaing, serta berhasrat seksual.
Otak perempuan sangat khas. Otak semua manusia tercipta sebagai otak perempuan pada perut ibunda. Sampai janin itu berusia delapan minggu setelah pembuahan, barulah terlihat apakah makhluk mungil dan lembut ini akan berubah menjadi bayi lelaki 4 kg atau bayi perempuan 3 kg. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sering kali terjadi dalam kehidupan perempuan ternyata diprakarsai dan disutradarai oleh otak dan aneka hormon. Mengapa remaja putri sangat terobsesi dengan penampilan dan suka sekali berbicara di telepon? Mengapa seks menyelinap di kepala perempuan setiap dua hari sekali sementara pada lelaki setiap menit? Mengapa perempuan lebih sensitif dengan perasan orang lain sementara lelaki sulit melihat emosi? Mengapa perempuan di atas 50 tahun lebih sering mengajukan cerai daripada lelaki? Mengapa perempuan mempunyai ikatan yang sangat erat dengan sahabat perempuan lainnya sementara para lelaki tidak melakukan hal itu?
Buku ini menjelaskan panjang lebar tentang perkembangan otak perempuan sejak otak kita tumbuh dari masa janin sehingga masa pasca-menapouse. Alam mengatur sebentuk drama yang luar biasa rumit serta menegangkan dalam diri perempuan agar kehendak semesta yaitu meneruskan kelangsungan hidup dapat terjamin. Alam juga memimpin para hormon dan otak zaman batu ini bekerja sama melibatkan diri dalam proyek paling prestisius sejagat raya: perempuan adalah makhluk yang unik dan khas; tercipta bukan untuk menyaingi atau melayani lelaki, melainkan sebagai bagian dari rencana mahaindah yang ada di langit ini.
Pada bab-bab awal, Dr. Brizendine menjelaskan panjang lebar tentang perayaan terbesar pada kalender manusia, yaitu kelahiran otak perempuan dalam tempat terhangat dan tergelap, rahim ibu. Hormon estrogen yang tinggi pada bayi dan kanak-kanak perempuan (di bawah dua tahun) menciptakan tingkah laku dan sifat alamiah yang sangat unik dan khas. Estrogen adalah hormon “sang ratu” yang merajai dan memegang kendali pada diri perempuan, menciptakan tarian goda dan pikat memikat serta teman dekat dopamin, serotonin, oksitosin, dll. Para ibu purnawirawan yang berpengalaman tentu saja sudah mengerti sifat khas bayi-bayi, bahwa bayi perempuan dan bayi lelaki mempunyai tabiat dan temperemental yang berbeda. Estrogen akan lenyap pada usia di atas dua tahun, sehingga masa jeda juvenil (usia dua tahun sampai dengan sepuluh tahun, sebelum melewati pintu pubertas) adalah disebut masa-masa tenang. Hormon-hormon menjadi stabil, berada pada titik terendah sehingga tingkah laku kanak-kanak perempuan dan lelaki akan dipengaruhi oleh pola asuh dan interaksi lingkungan
Perempuan tomboy telah “terencana” saat janin mulai terbentuk. Enzim Congenital Adrenal Hyperplasia atau disingkat CAH menyebabkan janin memproduksi testoteron (hormon maskulin untuk seks, dominansi, dan agresi) dalam jumlah besar dimulai tepat delapan minggu setelah pembuahan. Jika kanak-kanak perempuan yang secara genetis perempuan tapi sewaktu masih janin terpajan gelombang testoteron ini maka perilaku dan struktur otak mereka akan menjadikan mereka lebih mirip dengan perilaku dan struktur otak laki-laki. Kanak-kanak perempuan yang terpengaruh dengan hormon testoteron ini cenderung bergelut, berkelahi, dan bertindak agresi kasar. Mereka inilah para perempuan yang terkenal sebagai cewek tomboy.
Pada bab pubertas serta perempuan lajang terlihat jelas bahwa estrogen, progresteron, dan testoteron meningkat, berubah pada tiap minggu, mengikuti siklus haid. Otak kaum remaja mengubah diri, memenuhi dirinya dengan senyawa dan sirkuit-sirkuit kimiawi yang baru, membentuk otak yang berkembang ke arah otak yang lebih dewasa. Kaum remaja belum mampu mengambil keputusan yang berdasarkan akal sehat disebabkan oleh perkembangan otaknya yang belum sempurna ini. Saat remaja mencapai usia matang, perempuan lajang ini mempunyai kematangan seksual sehingga alam meyakinkan manusia bahwa mereka akan menemukan pasangan, cinta, dan meneruskan keturunan.
Ketika perempuan menjadi ibu adalah masa ketika perempuan berubah selamanya. Perempuan yang menjadi ibu mempunyai otak yang berbeda dengan perempuan yang tidak pernah menjadi ibu (atau tidak pernah mendapat pengalaman sebagai ibu). Definisi ibu bukanlah berarti menjadi ibu bagi anak-anak yang dilahirkannya; para perempuan yang membimbing, menjaga, mencintai, dan menghidupi anak-anak lain (ibu angkat) adalah serangan interaksi lingkungan yang memadai yang dapat mengubah struktur otak. Transformasi “Otak Ibu” ini akan bertahan selama-lamanya sehingga perempuan tersebut meninggal.
Melahirkan, menyusui, dan membesarkan kanak-kanak mengubah tingkah laku perempuan menjadi seperti para induk mamalia lainnya, sangat agresif dan hiperwaspada. Kerja sama erat antara hormon oksitosin (hormon lembut/pengasuhan), estrogen, progesteron dan testoteron menaikkan fungsi sirkuit stress serta kecemasan yang tinggi untuk membentuk ikatan kuat dengan anak-anak yang diasuhnya. Minat perempuan berubah, menjadi lebih terarah dan fokus para perkembangan, keselamatan, dan perlindungan kanak-kanak.
Para ibu mempunyai ingatan spasial yang lebih baik daripada perempuan yang tidak pernah mengasuh kanak-kanak. Otak ibu menciptakan sifat yang lebih fleksibel, adaptif, serta berani dibanding otak-perempuan-bukan-ibu; ini adalah kehebatan dan bakat yang harus dipunyai oleh para ibu (serta para induk mamalia lainnya) untuk melacakan dan melindungi anak mereka. Lama setelah sang bayi dan kanak-kanak ini tumbuh dewasa dan meninggalkan sarang, peralatan pelacak (alias GPS) sang ibu yang tercipta dan terbenam di otaknya terus bekerja. Ini yang menyebabkan para ibu menjadi sedih dan kehilangan ketika mereka tidak mempunyai kontak dengan manu
sia yang dulu adalah bayinya dan kini adalah perpanjangan realitas mereka sendiri.
Kemampuan ekstrim perempuan membaca reaksi air muka, menafsirkan nada suara, dan memahami emosi merupakan warisan istimewa zaman batu untuk memungkin para perempuan menjadi lihai serta canggih ketika menangkap isyarat-isyarat para bayi dan memperkirakan kebutuhan bayinya. Otak perempuan menenun kemampuan yang luar biasa ini agar manusia dapat bertahan hidup pada masa bayi dan berkembang secara utuh.
Bab-bab penutup, tahun-tahun senja perempuan, masa menapouse dan pasca-menapouse adalah masa-masa ketika hormon estrogen dan progesteron tidak menentu, semakin menurun, dan rendah. Hormon oksitosin juga rendah. Hormon androstenedion (hormon dalam indung telur) meredup (dia membara saat muda), dan akhirnya mati bersama indung telur. Perempuan masuk ke dalam tahap tenang, sirkuit menjadi kurang reaktif terhadap stress, dan tidak emosional. Perempuan pada masa ini juga sudah tidak berminat mengurus orang lain, lebih fokus kepada kebahagiaan diri sendiri. Saat menapouse, otak perempuan belum berniat pensiun, justru kehidupan baru menyentuh puncaknya. Masa ini bisa disebut sebagai masa intelektual yang menggairahkan. Pencapaian identitas menjadi penting. Peran nenek menggairahkan bagi beberapa perempuan, tapi bagi perempuan yang berkarir, masa ini adalah masa yang memberikan peringkat tinggi dalam hal kemandirian dan penerimaan diri.
Pada akhir buku, Dr. Brizendine menambahkan bab-ekstra berupa tiga lampiran penting. Dua lampiran awal adalah tentang terapi hormon serta depresi pasca-melahirkan. Lampiran terakhir mengupas tentang orientasi seksual; membahas tentang otak perempuan homoseksual. Dibandingkan dengan lelaki, otak perempuan yang mempunyai rasa tertarik dengan sesama jenis hanyalah 50 persen; dengan demikian, lelaki mempunyai kemungkinan 2 kali lipat menjadi homoseksual dibandingkan perempuan. Artikel ini sekali lagi membuktikan bahwa orientasi seksual bukanlah sekadar label diri yang secara sadar kita lakukan melainkan masalah struktur otak alias komponen genetis.
Buku ini memberikanku begitu banyak masukan dan kegembiraan. Sebagai perempuan, Dr. Brizendine membantuku mengenal apa yang terjadi pada pertumbuhan biologis dan alasan pemicu mood dan perilaku. Buku ini kurekomendasikan bagi lesbian yang ingin tahu lebih dalam tentang dunia perempuan. Pada akhirnya, perempuan adalah perempuan.
@Lakhsmi, SepociKopi, 2007















Sejauh yang saya baca, dan dari pengamatan, bahwa penentuan akan menjadi apa anak tersebut nanti baru mulai terbentuk pada kehamilan trisemester ke 2, karena embrio itu terbentuk pada minggu 8 kehamilan. Hal ini dipertegas pada waktu bayi tersebut dilahirkan bagaimana asah, asih dan asuh ditambah lagi lebih besar pengaruh keluarga atau lingkungan sosial.
Orang tua sering menyalahkan apabila anaknya menyimpang, yang salah adalah lingkungan tempat sang anak bergaul, padahal orang tua peranan 75% dalam fase oral dan fase anal, 10% genetik, 15% pergaulan.
Tapi di zaman sekarang ini Gay bukanlah penyimpangan seksual atau sakit, tapi lebih kepada orientasi seksual (diluar dari wacana agama, saya berbicara dari segi medis).
Bahkan perempuan Maskulin atau laki-laki Feminin bukan peyimpangan, hanya sifat/karakter, orang awam sampai sekarang masih sering memeliki anggapan yang salah.
([email protected])
Leave your response!