Home » Coming Out, Ibu

A Piece of My Mom

8 March 2007 113 views 4 Comments

Oleh: Ade Rain

Temans, berikut ini adalah tulisan anakku yang sudah mengetahui status ibunya sebagai les. Sebelumnya, aku kasih gambaran sedikit, ternyata aku lupa, bukan memberitahukan tentangku padanya ketika kelas IV SD, tapi dia masih mengingat kuat kejadian ini saat ia masih di kelas II SD. Kami berdua berusaha mengingat kembali kenangan itu, karena ada satu momen yang menguatkan memang ketika itu ia masih berusia 7 tahun.

Saranku, tulisan ini bukan menganjurkan teman-teman les untuk membuka diri pada anak. Jangan nekat memberitahukan anak kalau kita tidak merasa cukup nyaman dan aman. Dan HARUS mempertimbangkan perasaan anak kita. Karena satu minggu setelah aku memberitahukannya, Jihan sempat mengatakan rahasia ini begitu berat, seperti terlalu berat untuk ditanggung sendiri, lalu aku bilang jika ia merasa berat bisa membaginya dengan dua sahabat baikku yang juga mengetahui aku sebenarnya.

Sejak itu Jihan happy, lebih tenang bahkan kerap membuat jokes dengan dua sahabatku itu sampai sekarang ini. Jihan memiliki pribadi yang rendah hati dengan teman-temannya, karena dia sadar tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Aku dan Jihan sepakat tidak ada orang yang bisa menyandang gelar too good to be true.

Isi tulisan ini tidak ada yang aku edit, murni tulisan Jihan, aku hanya memperbaiki bagian titik dan koma yang seharusnya diletakkan di tempat yang benar. Semoga ada manfaatnya.

*Jihan bukan nama sebenarnya.

A Piece of My Mom
By Jihan

Pertama kali aku mengetahuinya ketika aku masih gadis kecil berumur tujuh tahun yang masih lugu.

Hari itu Mama bertingkah aneh sekali, tak seperti biasanya. Setiap Mama membuka mulut untuk berbicara padaku atau sekadar memanggil namaku, tatapan matanya kosong. Aku menyadari kejanggalan ini, tapi aku diam saja.

Mama membawaku, berdua saja masuk ke mobil, menyusuri salah satu dari jutaan jalan di kotaku. Mama berkata pelan, sambil menunjuk sosok-sosok di tepi jalan, “Jihan, setiap manusia punya keadaan yang tidak biasa. Bisa dianggap sebagai salah satu kekurangan oleh orang lain. Seperti mereka itu, mereka adalah waria, Sayang. Tapi, selalu ada saja orang-orang yang menghina, mengutuk, dan mencaci mereka. Padahal, mereka juga manusia, bukan kemauan mereka untuk jadi seperti itu.”

“Apa mereka gak bisa berubah, Ma?”

Aku masih saja belum mengerti.“Yah, nggak semudah itu, Sayang. Keadaannya sudah memang begitu. Tuhan memang sudah menciptakan mereka seperti itu…” Aku mengangguk pelan dan terdiam.

Kami kembali ke rumah. Saat itu malam belum larut, aku masih belum mengantuk, hanya sedikit lelah setelah Mama membawaku berkeliling kota tadi. Mama membelai sayang kepalaku, mencium dahiku, lalu bertanya, “Jihan tau kekurangan Mama?”

Aku, yang baru selesai membaca novel Enid Blyton tentang seorang anak yang kekurangannya adalah mudah marah, langsung menjawab, “Tau, Ma.”

Mama menatapku dalam. Seakan jawaban yang ada di dalam pikiranku sudah benar, Mama bukannya langsung bertanya “apa?” melainkan bertanya, “Jihan tau dari mana?”

“Gak dari mana-mana.”

Mama sepertinya mulai ragu dengan jawaban yang ada di dalam pikiranku, sehingga langsung bertanya, “Apa kekurangan Mama?”

Aku langsung nyerocos, “Mama mudah marah, tapi Jihan tau kok Mama marah kalo ada alasannya.”

Mama tertawa, lalu memelukku, dan mulai membuka kisah sebenarnya, “Ini untuk Jihan aja, janji ya, jangan kasih tau ke siapa-siapa. Ke siapa pun jangan.”

“Iya, Ma.”

“Ada perempuan yang hanya bisa mencintai sesama perempuan, yang seperti itu namanya lesbian. Nah, Mama yang seperti itu, Sayang.”

“Memangnya, kalo perempuan sama perempuan saling mencintai, itu bisa disebut kekurangan ya, Ma?”

Aku masih bingung, karena menurutku, saling menyayangi kepada siapa pun itu merupakan sifat yang sangat baik.

“Ya iya, dari pandangan orang normal namanya sebuah kekurangan, Nak. Di dalam agama juga sebenarnya ada larangan nggak boleh. Tapi Allah pasti lebih tahu kenapa ada yang begini, mau gimana lagi, sudah memang itu keadaaannya.

“Emangnya, Mama gak bisa mengubah perasaan itu?”

Mama menatapku dengan tatapan sedih dan dalam. “Gak bisa, Sayang. Mama bahkan pernah mencoba ke dokter, tetapi kata dokter ini nggak bisa disembuhkan. Dulu, mama pikir tidak semua lelaki itu bisa sebaik perempuan, sampai Mama bertemu Papa. Barulah Mama menyadari nggak semua lelaki itu jahat, banyak juga yang baik. Dan dulu Mama juga berpikir bahwa Mama bisa sembuh dengan menikahi Papa dan punya anak, tetapi, kenyataannya memang nggak bisa.”

Aku tersenyum hampa.“Jadi, Papa gimana, Ma? Kasihan dong. Gimana kalo Papa tau, Ma? Kapan Mama akan cerita ke Papa?” tanyaku takut-takut. Aku benar-benar takut jikalau nanti Mama dan Papa akan bercerai gara-gara masalah ini.

“Ya jangan sampai Papa taum Nak. Mungkin akan datang masanya Mama akan bilang ke Papa,” jawab Mama. Sepertinya Mama paham akan ketakutanku.Aku tak yakin dengan jawaban itu. Namun aku diam saja, perasaanku jauh lebih tenang setelah mendengar jawaban Mama. Lalu, aku bertanya lagi, “Jadi, Mama hanya bisa mencintai perempuan. Siapa?”

“Jihan masih ingat Tante Al?”

“Kayaknya masih, Ma. Yang dulu pernah ke rumah kita, kan? Yang datang dari Jakarta itu kan, Ma? Yang dulu pernah kasih Jihan boneka Barbie cantik,”

“Iya, Nak,”jawab Mama.

Aku mendapat pelajaran berharga dari semua kenyataan ini, bahwa apa pun yang dialami seseorang, seperti keadaan Mama, merupakan bagian dari kehidupan.Sejak hari itu, aku dan mama menjadi semakin dekat. Tak ada satupun rahasia Mama yang aku tidak tahu, dan tak ada rahasiaku yang Mama tidak tahu. Kami selalu berbagi cerita, bahkan tentang cinta. Mama telah membangun aku menjadi anak yang berbeda, yang berpikiran dewasa. Mungkin karena sejak kecil mama sudah mempercayaiku untuk menjaga rahasia.

Aku benar-benar tumbuh berbeda dari teman-teman yang seusiaku saat itu. Mereka hanya memikirkan kapan ada acara Teletubbies, dan kesibukan anak-anak lainnya, sementara aku lebih memilih untuk mendengarkan curhatan pedih Mama dan menghiburnya.

Dan aku wajib bersyukur, kepercayaan Mama membuatku tumbuh bijaksana. Aku sering menjadi penengah di antara teman-temanku yang bertengkar. Kalau ada permusuhan di antara aku dan teman-temanku, biasanya bukan aku yang memulai. Setiap pulang sekolah, semua yang kualami kuceritakan pada Mama, baik hal kecil sampai masalah besar. Aku juga tak pernah takut untuk jujur pada Mama tentang hal-hal tertentu yang anak-anak lain takut untuk mengatakan kebenarannya, seperti masalah nilai ulangan yang “parah”, dan lain-lain. Mama selalu ada untuk mendukungku menjadi salah satu yang cukup baik, tetapi Mama tak pernah menuntutku untuk menjadi yang terbaik. Mamalah orang yang paling kusayangi, dan sekaligus harta paling berharga yang pernah aku miliki.

Demikian perasaanku, sampai sekarang, usiaku dua belas tahun. Aku telah memiliki seorang adik bayi perempuan dari Tante Al. Kini aku telah memanggil Tante Al “Bunda”, sebagaimana yang seharusnya. Aku senang pada Bunda. Bunda sangat baik, perhatian, dan sayang padaku.

Pertama kali aku melihat wajah imut adik kecilku, aku sangat gemas melihatnya. Ia begitu lucu dan comel. Memang kadang-kadang aku agak cemburu karena mama sangat perhatian padanya. Tetapi aku tahu, ia memang membutuhkan perhatian.

Setiap sebulan sekali Mama selalu mengunjungi adik kecilku ke Jakarta. Kalau sudah begitu, lagi-lagi aku cemburu. Aku sering meras
a, akulah yang paling membutuhkan perhatian mama karena aku sedang di masa yang sangat sulit, masa remaja. Masa-masa seseorang mendapatkan cinta pertamanya, atau mungkin, seperti yang kualami kini, cinta ketiga. Kalau aku sudah patah hati, menangis dari jam dua siang sampai jam sembilan malam, orang yang bisa menenangkanku hanya mama. Bahkan Papa pun tak bisa.

Jadi, setiap Mama mengatakan akan ke Jakarta, satu-satunya alasan yang membuatku rela melepas mama adalah karena aku kasihan pada Bunda dan karena aku juga sayang sekali dengan adikku.

Beberapa hal lain tentang Mama, Mama itu orangnya murah hati, bijaksana, dan tidak kikir. Lucunya, kadang-kadang Mama bertingkah seakan-akan masih seumuran denganku. Aku sayang sekali padanya.

-End of February-

4 Comments »

  • Juno Bis said:

    My dear lil-sis Rain,
    I found this article in SepociKopi old archive.

    I think an angel like you deserve to have a little angel daughter like Jihan — a precious gift from the Almighty. May you both always be sheltered by His loving hands.

  • Arinie said:

    really a wonderfull daughter of you, Sis rain…salam sayang dan peluk hangat buat Jihan

  • arf said:

    puteri sulungmu sungguh luarrr biasa..aku mengagumi kedewasaanya…tak smua anak bsa brpkir sedewasa itu..aku pngen bngt jika suatu hri nnti aku mnikah dn pnya anak aku pngen anaku pnya pola pkir yg sma dgn putrimu..oia klo d itung2 skrg umurnya dah 16 y?psti dia tmbuh jdi wanita yg sngt cantik..slam hngat for u n your daughter Rain..

  • fatandbald said:

    Surat dari Jihan bagus. I’m not good with words, but she sounds like a thoughtful, considerate and mature person. You both are blessed to have each other dan kata-kata dia yang paling saya suka, “karena menurutku, saling menyayangi kepada siapapun itu merupakan sifat yang sangat baik”.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.