Perempuan di Persimpangan Jalan
Oleh: Cassey
From: http://www.jejakartemis.blogspot.com/
Kita semua pernah berada di persimpangan jalan. Alamat yang dicatat di secarik kertas bagaikan teka teki silang yang membangkitkan gairah sekaligus keraguan. Apakah kita akan rela berhenti di pinggir jalan penuh debu, dengan segala kesantunan bertanya pada orang-orang sekitar? Apakah kita dengan jiwa petualang yang ceroboh akan mencoba setiap arah? Ataukah kita tidak punya keberanian sedikit pun lalu berbalik arah dan kembali ke cangkang yang aman dan hidup dengan rasa ragu yang membelit sepanjang usia?
Setiap lesbian pernah mengalami kekalutan di persimpangan jalan. Tidak sedikit yang selama bertahun-tahun masih bertahan di sana demi norma, adat, dan kehormatan keluarga.
Aku pernah di sana, persis di titik yang menyebabkan mata nyalang sepanjang malam. Berpikir dan meraba bagai hati yang buta. Tak terhitung labirin yang kugambar pada langit-langit kamar dan berapa warna keraguan yang kulukis di kanvas pikiranku seperti seorang buta mencoba memilah putih dan hitam.
Di usia kanak-kanak, aku sudah merasakan bulu kuduk yang meremang karena sentuhan tangan seorang wanita. Merasakan wangi kulitnya yang memabukkan sampai tatapan mata yang menggoda iman. Di usia remaja aku sudah merasakan madu dari mulut seorang wanita yang kucium serta-merta di kamar sempit tempat kami menghabiskan liburan semester. Tidak ada hal aneh karena semata aku tiba-tiba merasakan kehausan untuk menikmatinya.
Dan menjelang dewasa, aku mengambil langkah besar dengan gagah berani memilih jalanku. Menikah dengan lelaki menawan dan menikmati proses regenerasi paling alami, menjadi ibu dari bayi mungil yang lahir setahun kemudian. Lelaki-lelaki indah dalam hidupku yang kini sering kuabaikan karena dari rahim cinta telah lahir seorang wanita. Dengannya sepotong hatiku yang tidak lengkap digenapi.
Masih terlalu sering dalam perjalanan ini, aku terdiam di persimpangan jalan walaupun hatiku sudah menetapkan tujuannya. Utara atau selatan, sekarang tidak ada bedanya. Sama-sama menjanjikan kemanisan dan kepahitan, sama-sama menoreh luka bila ditinggalkan. Tapi luka ini tidak lagi begitu menyakitkan karena apakah ada luka yang lebih mematikan daripada mengkhianati hati sendiri?
Perempuan-perempuan di persimpangan jalan, apakah kita akan bertemu di titik di mana langit tidak berbatas dan hujan tidak lagi membasahi? Apakah sudah cukup labirin yang kau tempuh di mana kesesatan sudah menyalakan setiap sel kedewasaanmu? Apakah ketakutanmu menyebut diri lesbian sudah kausimpan di pojok lemarimu? Apabila belum, kukirimkan padamu sebilah pedang untuk membela kehormatan takdirmu. Dan dengarlah, kita tidak perlu genderang untuk berperang. Kita tidak butuh perisai baja karena takut luka. Sebab luka ternyata menggoreskan sesuatu yang indah.
@Cassey, JejakArtemis, 2007














Leave your response!