Scent of Life
Oleh: Lakhsmi
From: http://jejakartemis.blogspot.com
Pertanyaan-pertanyaan dalam hatiku pun bermunculan Apakah kamu pernah mengendus bau kehidupan? Seperti apakah bau itu yang perlahan-lahan menyelinap di hidungmu, terkadang membiusmu, terkadang membuatmu ragu?
Seorang teman lesbian yang baru saja kukenal menulis sebait email teramat panjang tentang isi hatinya. Seketika hidungku mengendus jutaan bau yang menyerbu masuk di nostrilku. Suratnya sangat indah; mendayu bagi seorang penyair, berwarna-warni bagai cipratan krayon kanak-kanak di selembar kertas besar. Suratnya adalah bau hujan di sore hari, bau matahari hangat, bau cahaya bintang, bau pekik sorak, dan bau tangis air mata.
Aneh memang bagaimana dunia maya dapat menguarkan aneka ribuan bau. Di dalamnya ada identitas-identitas yang tak hening, melompat-lompat dalam negeri bebas yang abadi – seabadi avatar. Partner selalu mengatakan dunia maya adalah keajaiban dunia. Kuakui bahwa perkataannya sungguh tepat; kini aku merasakan tenaga luar biasa keajaiban ini. Seperti pemain sulap, aku menghilang dan tersihir menjadi ribuan data dan teks, bertemu dengan ribuan data dan teks lainnya. Menciptakan dialog-dialog dalam ribuan jaring laba-laba berwarna abu-abu. Bersilatuhrahmi pada puluhanjuta alamat tempat tinggal tanpa atap, pintu, dan jendela.
Dalam dunia yang berwajah sesungguhnya, aku sendiri menguarkan bau. Bau seorang ibu lesbian yang tiap hari mengkhianati suami dengan mencintai perempuan lain. Aku adalah malaikat kelas bawah; botak punggung, tak bersayap – karena sayapku takkan pernah bisa tumbuh oleh dosa yang kutorehkan dengan kejam. Dampak rasa bersalah yang berubah wujud menjadi meteor panas yang melesak tepat di jantungku. Merobek-robek dan menghancurkan nadiku tiap-tiap hari. Tapi, ah, suatu malam aku didatangi malaikat. Malaikat tingkat tinggi yang bertutur bahwa sayapku akan tumbuh jikalau dalam hidup, aku berhasil menyelamatkan seseorang dari malapetakanya. Jikalau dalam hidup, aku berhasil menyelamatkan seseorang dari kubangan putus asa. Dengan begitu, malaikat tingkat tinggi itu berjanji aku akan mendapatkan sayapku kelak di surga.
Bagaimana caraku untuk mendapatkan sayapku?
Begitulah bagaimana cerita kakekku terulang kembali di memoriku. Aku memutuskan untuk mengoleksi bau. Bau keindahan, bau harapan, bau senyum kanak-kanak, bau teriakan kemenangan, bau inspirasi, dan bau merah jambu. Saat aku bertemu dengan berbagai orang bahagia, diam-diam kuperas bau mereka. Saat aku mengalami peristiwa yang teramat indah, kusimpan bau itu. Kumasukkan dalam botol, kusumbat dengan gabus, dan kujaga rapat-rapat. Tapi berbeda dengan cerita kakek, aku tidak sekadar mengoleksi bau dan memajangnya di suatu ruangan khusus.
Begini yang kulakukan. Saat aku bertemu dengan seseorang yang sedang berdiri di pinggir gedung, berancang hendak melompat ke bawah, kubuka salah satu botol itu. Kusentuhkan di hidungnya, kukatakan agar dia menghirup bau ini agar paru-parunya dapat bernapas dari kesesakan, agar jantungnya kembali dapat berdenyut, dan agar senyum kembali mempigura wajahnya.
Ah, ternyata mujarab. Koleksi bauku menyentuh hati orang-orang. Koleksi bauku membuka pintu jiwa mereka yang tertutup rapat. Mereka menjadi lebih baik, lebih sehat, lebih riang, dan lebih berharap. Kunyalakan obor inspirasi di dalam hati mereka, menyebarkan doa pada jiwa-jiwa yang rapuh, dan kuterima titipan rahasia mereka. Aku kini menjadi semakin sibuk dengan usaha pengobatan spiritualku.
Sudah tumbuhkan sayapku sekarang?
Kupikir belum. Aku masih sekadar malaikat kelas bawah. Aku masih menggenggam biji-biji kebijakan sambil terus mencangkuli tanah agar biji-biji itu tumbuh menjadi pohon-pohon berkelimpahan. Aku menggunakan talenta yang dititip oleh malaikat tingkat sempurna; talenta yang kini menjadi pedang dan baju zirah perdamaianku melalui tulisan-tulisanku. Aku jaga baik-baik botol-botol berisi bau indah itu, agar setiap orang yang menginginkannya dapat mencicipinya. Agar segarlah perjalanan pengembaraannya. Agar berbinarlah bola matanya. Agar menjadi oase dalam pengelanaan dirinya sebagai musafir.
Jikalau kamu melihat bintang jatuh, bunga merekah, atau bunyi lonceng berdenting, ingatlah peristiwa itu baik-baik. Tundukan kepalamu dan bersyukurlah dalam doa yang kaubisikkan dalam hati. Karena pada detik itu, seseorang seperti aku – malaikat kelas bawah, mendapatkan sayapnya di surga.
@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007














Leave your response!