Home » Twilight Zone

A Hundred Years of Solitude

2 March 2007 40 views No Comment

Oleh: Lakhsmi
From: http://jejakartemis.blogspot.com

Ini adalah kenangan. Satu keping mozaik kecil di kehidupan yang sedari dulu ingin kupotret. Satu noktah langkah hidup yang tertinggal dalam belanga ingatanku.

November 1995. Mata kuliah History of Art membuatku harus mengunjungi museum. Tidak ada sesama sahabat Indonesia yang dapat kuajak untuk menemani ke museum. Ah, maklumlah, para mahasiswa itu lebih memilih jurusan Bisnis atau Teknik yang terdengar lebih hebat dan “normal”. Bagi mereka, jurusan lain di luar itu – apalagi jurusan seni, adalah tempat buangan untuk mereka yang tidak mempunyai otak sebrilian Profesor Calculus-nya Tintin.

Ah, aku kok selalu menjadi minoritas dalam setiap komunitas? Ada apa dengan diriku?

Akhirnya aku mengajak Valent, sahabat lelaki terbaikku. Hetero murni. Lelaki metroseksual yang pandai berdandan. Sangat maskulin, tinggi dan tampan. Kebetulan kami membagi kesukaan yang sama; sama-sama mencintai seni sehingga ide untuk menghabiskan waktu di museum dan mengagumi deretan lukisan dan patung tidak menjadi masalah bagi Valent.

Setelah selesai bercengkrama dengan isi museum, kami pun hendak pulang. Gerimis salju turun perlahan-lahan bagai rinai hujan yang sangat halus. Butir-butir kapasnya meluncur, melenggak lenggok di hadapanku, mendarat di ubun-ubun. Valent menutup kepalanya dengan topi rajutan berwarna merah.

“Yuk kita pergi ke sungai.”

Aku mengangguk setuju. Kota kami dibelah oleh sungai besar yang mengalir di tengah-tengah. Sungai ini menjadi keindahan tersendiri. Aku sangat mencintai sungai ini. Terkadang sampai sekarang pun, aku masih dapat mengingat kedamaian hatiku saat aku menyetir, menyusuri sungai menuju ke apartemenku.

Sungai telah beku. Ada tugu teramat besar berbentuk kapal dibangun di bibir sungai. Suasana sangat sepi. Kami berada jauh dari keributan jalan raya. Aku mengetatkan jaket tebalku, berjalan bersama Valent, beriringan, menghayati ledakan hening. Tanpa suara kaki kami menyentuh salju. Hidung kami mengeluarkan uap dingin.

Tiba-tiba hujan salju menderas. Sangat deras sehingga aku nyaris tidak dapat melihat Valent. Di antara kami berdua turun beratus-ratus kapas putih dari langit membentangkan jarak di antara kami berdua. Dinginnya tak tertahankan. Valent menarik tanganku yang bersarung tangan tebal. Kami berdua segera berlari menuju emperan gedung besar. Sebuah gedung masif yang berkubah tinggi bagaikan bangunan gereja. Tanpa suara, kami berteduh di emperan itu, di bawah kubah raksasanya.

Valent tidak melepaskan genggaman tanganku dan aku pun tidak berniat melepaskannya. Kami berdua berdiri bersebelahan – bahu dengan bahu, mengamati hujan salju yang begitu indah. Begitu hening. Aku melirik ke arah Valent. Betapa tingginya dia dibandingku. Betapa maskulinnya dia. Seperti digerakkan oleh magnet, aku bergeser ke kanan, mendekati dirinya. Bau tubuhnya bagaikan bau musim gugur, bau apel yang dipanggang dengan karamel, seperti wangi sehabis hujan ketika tanah basah berubah menjadi lantai embun.

Tak terasa, aku menggigil.

Valent melepaskan genggamanku. Dia merangkulku erat-erat. Merangkulku seperti tidak akan pernah melepaskanku lagi. Aku merapat padanya, merasakan dunia begitu damai, begitu tentram. Kami berpelukan selama sepuluh menit, menonton rinai salju yang berjatuhan, membagi kehangatan tubuh, tanpa kata-kata. Siluet kami meleleh menjadi satu dalam bayang yang semakin kelam.

“Berapa lama rumput di luar sana tertidur?”

“Seratus tahun kalender rumput.”

“Rumput punya kalender?”

“Setiap orang membawa kalendernya sendiri-sendiri di dalam hati.”

Aku tersenyum. Valent menoleh dan tersenyum kecil.

Hari itu, kami tidak melakukan apa-apa kecuali berpelukan dan menonton salju meleleh. Sampai sekarang, kami adalah dua sahabat baik. Dia orang pertama yang kuceritakan saat aku jatuh cinta dengan perempuan. Dia lelaki pertama yang tidur bersebelahan denganku, bergelung layaknya saudara sejiwa. Biarpun sekarang kami jarang bertemu, sebenarnya hatiku masih berdekapan dengannya dengan bungah, layaknya bunga yang abadi mekar.

Bersama sahabat lelaki ini, aku melakukan perjalanan seratus tahun perenungan dalam kesunyian. Jika aku adalah perempuan yang mempunyai takdir bersama lelaki, dengan mudahnya aku jatuh cinta padanya saat itu. Salju, dingin, sentuhan, gedung, kubah,… semuanya begitu indah, orkestra alam sempurna yang dapat menumbuhkan setetes cinta. Seperti yang kubayangkan sebagai pasangan pangeran dan putri. Tapi, tidak. Tidak ada kejadian seperti itu. Bahkan tidak ada kejadian romantis apa pun.

Kejadian itu adalah titik awal, satu peristiwa penting, pengingatku yang menunjukkan bahwa aku mampu berhubungan dengan lelaki tanpa harus melibatkan perasaan romantisme. Menyayanginya karena hatiku seluas samudra. Ada ruang lapang bagi seorang lelaki untuk singgah di sana. Ada sebidang tanah kosong untuk ditanamani deretan perdu berbunga baginya.

Hujan salju masih deras turun. Valent memelukku semakin erat. Aku bertanya dalam hati. Jikalau semua pendapat masyarakat tentang hubungan hetero adalah sangat penting, apakah aku sungguh-sungguh mempunyai pendapat sendiri?

Seratus tahun kesunyian. Musim dingin bersama Valent. Salju berjatuhan. Bunga-bunga urung mekar. Kutulis ini untuk mengenangnya. Kutulis ini karena sekarang aku adalah perempuan bersuami. Kutulis ini karena hatiku merekah bagi kekasih perempuanku.

@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.