Home » Perempuan

Over the Rainbow

Submitted by on 22/02/2007 – 6:03 am3 Comments | 359 views

Oleh: Lakhsmi
From: http://www.jejakartemis.blogspot.com/

Tujuh tahun, bersamamu. Tak pernah tertinggal sendiri. Tak pernah sepi.Bagaimana aku memulai cerita? Dia adalah lelaki yang menjadi suamiku. Dia tidak pernah membiarkanku menanggung kesulitanku sendiri. Segalanya menjadi sangat istimewa baginya jika aku memohon sesuatu padanya—untuk dikabulkan. Tujuh tahun bersamanya, di rumah maupun di luar. Berjauhan maupun berdekatan, tak ada beda. Sering kali bersama, lebih sering sendirian.Ini setumpuk hati teramat lelah yang ingin kualamatkan padanya. Ingin kubuka ribuan lapis hatiku yang terbungkus di hadapan lelaki ini, satu demi satu sehingga dia melihat inti yang telanjang. Hanya agar dia tahu tentang kebenaran yang telah menikam istrinya berulang-ulang. Hanya agar dia tahu aku telah mati berkali-kali untuk dihidupkan kembali. Tegakah aku? Tidak, aku tak tega. Aku ingin kita tetap seperti ini, menganggap semua ceritaku bukan kebenaran, melainkan sekadar bayang ilusi yang tak pernah terjadi.

Cincin. Lingkar sempurna sebuah janji. Jangan diremas ucapan itu.

Bagaimana aku memulai cerita? Dia adalah perempuan terindah yang berada di sisiku selalu. Dia yang tak pernah membiarkan aku menanggung kesendirian dan keletihan batin. Segalanya menjadi sangat mudah ketika tanganku berada di tangannya dan mataku menatap matanya. Tiga tahun bersamanya, di rumah maupun di luar. Berjauhan maupun berdekatan, tak ada beda. Sering kali sendirian, lebih sering bersama.

Ini adalah luapan cinta tak berujung yang kusiram di pangkuannya seperti slang air yang menyirami deretan kembang sepatu di kebun rumah. Kulitnya terasa begitu harum dalam sentuhanku; indraku menjadi mabuk. Aku malu karena aku menjadi liar tak terkendali bagai remaja yang belum pernah tersentuh cinta pertama. Kubayangkan ribuan perempuan lain yang dapat bersamaku, tapi tidak, aku hanya mengingini dirinya. Lalu apa? Tidak apa-apa. Kusisipkan dia perlahan-lahan dalam ribuan jam hidupku yang bersesakan bagai pasar kaget.

Mari, kutanyakan padamu, Teman, apa yang kamu lihat dari drama hidupku? Seorang perempuan yang mengkhianati cinta ataukah seorang perempuan yang menemukan cinta? Seorang perempuan yang mencari jalan keluar dengan mudah ataukah seorang perempuan yang berjuang mengais sebongkah kebahagiaan? Seorang perempuan pengkhianat keluarga ataukah seorang perempuan pembela keluarga sampai titik darah penghabisannya? Seorang perempuan yang membagi cerita untuk menginspirasi daun-daun kehidupan ataukah seorang perempuan yang mengusung jawaban standar cara menjadi lesbian Indonesia?

Jawabannya ada di tanganmu sendiri.

Inilah sudut dengan seratus sisi.

Saat kamu baca kalimat demi kalimat yang tumpah di layar monitor ini, aku hanya membantumu menyalakan lentera agar teranglah selalu jalanmu; agar kamu melihat seribu jalan-jalan lain di hadapanmu. Aku bukan petunjuk jalan yang mengarahkan hendak ke mana kakimu harus melangkah. Sebagai perempuan mandiri yang tidak sudi didikte, aku mencari cahaya mercusuar sepanjang hidupku. Menjadi lesbian bukanlah matematika dengan logika satu tambah satu sama dengan dua. Bukan pula langkah bebek yang saling berendeng mengikuti. Tidak ada petunjuk jalan, peta, maupun perincian. Lesbian adalah seni, suatu keindahan yang kamu temukan sendiri dalam ngarai hatimu yang terdalam.

Sebab jika kamu mengikuti papan jalan, kamu hanya melangkah di jalan orang lain. Sebab jika aku mengikuti papan jalan, petunjuk itu akan membimbingku menemukan segentong emas dan sekeranjang permata di ujung pelangi.

Dengarkan baik-baik. Aku tidak membutuhkan emas ataupun permata. Emas dan permata akan habis dengan cepat. Aku ingin menemukan hal lain, sesuatu yang abadi daripada emas maupun permata. Karena itu aku mengikuti apa kata hatiku. Aku menyalakan oborku. Aku mengikuti ke mana cahaya mercusuar membimbingku. Tahukah kamu ke mana? Di atas pelangi aku menemukan dunia lain. Dunia indah yang lebih indah daripada sekadar emas maupun permata. Kutemukan dunia ini karena aku menolak mengikuti plang jalan. Kutemukan dunia ini karena aku melangkah melalui caraku sendiri. Apakah kau mengerti maksudku? Jawabannya ada di dalam hatimu sendiri.

Somewhere over the rainbow, way up high, there’s a land that I heard of once in a lullaby. Somewhere over the rainbow, skies are blue and the dreams that you dare to dream really do come true

@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007

Tags:

3 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.