From: http://jejakartemis.blogspot.com
Di pelataran ruang tunggu, penuh dengan ibu-ibu, suster, dan para pembantu yang asyik bergosip ria. Aku mencari bangku dan terduduk di sana. Sendirian. Melamun. Menunggu hujan reda. Berandai-andai. Adakah satu di antara ibu-ibu di sana yang hidupnya sama sepertiku? Makhluk amfibi. Bertahan hidup di dua dunia, begitu kata Cassey kepadaku.
Apakah ada seorang lesbian lajang yang menyadari betapa sepinya hati seorang ibu lesbian? Kami adalah kelompok perempuan yang (mungkin) paling sering dicerca karena memutuskan menikah. Kami adalah kelompok perempuan yang (mungkin) tak ingin dijadikan kekasih oleh para lesbian lajang. Kami adalah kelompok perempuan yang (mungkin) dijauhkan oleh para lesbian lajang karena gaya hidup yang berbeda banget.
Kami adalah the outsider. Orang “luar”. Orang yang tidak belong ke mana pun. Tidak ke kelompok lesbian, tidak pula ke kelompok ibu-ibu hetero.
Sebagai perempuan lajang, partnerku (sebelum menjadi istriku) juga tidak begitu respek dengan perempuan lesbian yang telah menikah. Untuk apa berhubungan dengan mereka, begitu selalu nasihatnya kepada teman-teman lesbian lainnya. Masih banyak lesbi lajang lainnya yang dapat dijadikan kekasih. Pacaran sesama lesbian aja repot, jangan tambahin kerepotan lagi berhubungan mesra dengan lesbian yang telah menikah. Sekarang… aha! Dia kena batunya. Tapi sudahlah, tidak perlu dibahas lagi ucapan dia. Aku bisa mengerti mengapa dia berani mengatakan hal itu kepada teman-temannya. Aku yakin partnerku adalah wakil dari banyak lajang lesbian yang punya pandangan persis sama dengannya.
Padahal ibu lesbian tidak ada bedanya dengan para lesbian lainnya. Hatinya sama, jiwanya sama. Ingin mencintai dan dicintai perempuan, bukan lelaki. Bergairah dengan perempuan, bukan lelaki. Membayangkan perempuan, bukan lelaki. Bahkan ibu lesbian punya tanggung jawab yang sangat besar, yaitu mendampingi anak-anak mereka sehingga anak-anak mereka dapat menjadi orang-orang yang hormat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, termasuk penghormatan kepada kelompok homoseksual. Ini adalah pekerjaan yang sangat berat, penting, dan istimewa. Karena itu, kupikir ibu-ibu lesbian pantas mendapat dukungan dan pendampingan yang baik oleh kelompok lesbian lainnya, sehingga mereka tidak merasa terasing dan sendirian.
Jadi ingat ucapan Hillary Rodham Clinton dalam salah satu bukunya. It takes a whole village to grow up a kid.
Partnerku mendampingi hidupku sampai pada titik di mana aku bergantung banyak hal kepadanya, bukan kepada suamiku. Ketika kami memutuskan hendak punya anak lagi. Ketika aku hamil. Ketika aku melahirkan. Ketika mengurus bayi merah berusia di bawah 40 hari. Ketika anak-anak kami sakit. Ketika mengambil rapor. Ketika bergadang tengah malam. Dan lain-lain. Aku bersandar padanya, ketika hatiku lelah. Aku menangis di bahunya ketika aku cemas dengan anak-anak. Aku membutuhkan tangannya karena dua tanganku tidak cukup memikul perjalanan sebagai “ibu”.
Aku beruntung. Aku perempuan yang beruntung memiliki dirinya. Masih ada ibu-ibu lesbian lainnya yang “hidup selibat” alias tidak punya pacar karena kesulitan mencari pasangan perempuan yang bersedia berhubungan romantis dengan mereka. Masih ada ibu-ibu lesbian yang sendirian di tengah perjuangan hidupnya sebagai lesbian, ibu, dan istri. Mereka mencari bahu untuk bersandar, teman untuk mendengarkan cerita lelah dan kegembiraan mereka sebagai ibu, serta hubungan mesra yang membuat mereka bertahan dengan kewarasannya.
Teman heteroku berkata nyaring, “kalau udah punya anak, perempuan jadi nggak fun lagi.” Heh? Siapa bilang? Aku melipat tangan di dada. Kami tetap fun. Hanya saja kami punya kegembiraan yang berbeda. Kami punya selera humor yang berbeda. Kami lebih sibuk, kami naik jabatan, kami menginjak surga, dan kami punya tanggung jawab yang lebih besar. Suatu hari kelak, entah berapa puluh tahun dari sekarang, kami akan berhasil menciptakan generasi yang lebih ramah kepada kaum homoseksual. Nah. Itu pekerjaan fun, tahu!
Seseorang memanggil namaku. Lamunanku terpecah. Hujan telah lama berhenti. Kami mengobrol sebentar, obrolan standar ibu-ibu tentang festival topi yang akan diselenggarakan oleh sekolah anak-anak. Aku melirik jam tangan. Astaga, saatnya bekerja, bukan ngerumpi. Aku berlalu sambil melambaikan tangan kepada ibu sahabat anakku, berjalan di lapangan parkir menuju mobil. Terasa satu tetes hujan mendarat di ubun-ubun. Ah, aku menghela napas. Pagi ini memang pagi yang basah.
@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007
Wil
January 7th, 2009 at 11:09 am
Ckckckck… ini tulisan atau perenungan ya, Mbak…??? Kok isinya bagus banget, begitu menyentuh sampai ke sanubari, terutama buat L-Mom… (merasa nieh yee…) Selama ini udah begitu familiar dengan istilah “The Other”, tiba-tiba ada lagi istilah “The Outsider”… Nasib oh nasib…
tiek
April 18th, 2009 at 2:49 pm
Membagi dua cinta, bagiku terlalu sulit tapi gimana aku juga mengalami seperti mbak.
Untuk kita renungkan bersama khususnya kita yang ga lajang dan mengenal cinta yang berbeda.
Cintanya yang datang terlambat tapi begitu menyentuh hatiku terdalam. welah. opo ae yo.