Memasuki dunia lesbian dan mengakuinya di hadapan teman-teman straight memang memiliki resiko tersendiri. Banyak lesbian yang menempuh resiko itu untuk menjadi terbuka dan apa adanya. Berhargakah keterusterangan tersebut jika kehilangan teman? Ataukah memang keterusterangan adalah syarat mutlak untuk menilai kemilau persahabatan? Dengarkan kisah Erika Chan yang bercerita tentang sahabat-sahabat straight-nya.
Perkenalkan teman-teman SepociKopi, nama saya Erika. Sejujurnya, saya terkejut sekali menemukan situs SepociKopi. Situs ini adalah impian saya sejak saya mengakui orientasi seksual saya kepada diri ini. Situs ini juga adalah angan-angan semua sahabat-sahabat lesbian saya dulu. Jadi alangkah gembiranya saya menemukan ternyata impian itu bukan sekadar impian, tapi benar-benar menjadi kenyataan. Proficiat SepociKopi untuk ketekunan dan keberhasilan yang dicapai dari situs ini. Saya melihat bookmark dan jumlah angka-angka pengunjung yang mencengangkan. Luar biasa1 Teman-teman lesbian yang berdiri di belakang situs ini, saya mengucapkan terima kasih.
Oleh: Alex
Cerpen-cerpen di “Un Soir du Paris” adalah cerpen yang pernah kami tampilkan di situs ini sejak tahun 2007. Berkat dukungan teman-teman dari para penulis atas izin pemuatan mereka di situs ini, akhirnya setelah tiga tahun kita bisa memiliki sebuah kumpulan cerpen yang merupakan kumpulan cerpen full lesbian pertama di Indonesia.
Bukan sekadar kumpulan cerpen, tapi terdiri atas cerpen-cerpen yang pernah dimuat di media massa atau pernah dimuat dalam antologi/kumpulan cerpen. Semua penulis yang karyanya terangkum di sini karyanya pernah diterbitkan dalam bentuk buku, baik itu puisi, cerpen, dan novel. Ini memang suatu kesengajaan untuk menunjukkan eksistensi suatu karya lesbian yang pernah dipublikasikan di media massa. Siapa tahu, ini bisa menjadi perintis untuk terbitnya karya-karya lesbian dari penulis baru di masa datang.
Mari kita kenali lebih akrab sosok 12 penulis cerpen dalam kumpulan cerpen “Un Soir du Paris”:
Read the rest of this entry »
Oleh: Sebeningembun
Azan magrib baru saja berkumandang. Dengan sukacita kuteguk segelas air putih yang dengan segera membasahi kerongkonganku setelah seharian kerontang. Seperti tanaman layu yang langsung segar tersiram air hujan, begitu pula rasanya tubuhku kembali bugar. Terima kasih Tuhan…, saat puasa begini, bahkan air putih pun terasa begitu nikmat. Hari ini masih seperti hari-hari kemarin, tidak ada hidangan berbuka puasa yang meriah, tidak ada es buah, tidak ada kolak atau pacar cina. Hanya air putih di atas meja. Dan entah mengapa, rasanya itu sudah lebih dari cukup.
Sesungguhnya kebahagiaan orang yang berpuasa itu ada dua, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Tuhannya.
Sebenarnya hal-hal kecil dan remeh dalam hidup kita bisa memiliki arti lebih kompleks atau korelasi yang jelas dengan hal-hal yang lebih penting bila kita benar-benar memperhatikannya atau mencoba melihatnya dari sudut yang sedikit berbeda. Namun seringnya, di tengah segala macam situasi hidup, kita tak menyadari itu. Kita sering sibuk hidup tanpa dengan sadar mencoba menikmati hidup. Salah satu hal remeh yang bila diamati lagi bisa berarti lebih adalah shampo. Benar, si cairan kimia yang tugasnya membersihkan rambut di kepala kita dari, idealnya, segala macam masalah rambut yang kita miliki. Arti lebih apa? Well, hubungan kita terhadap shampo ternyata sangat paralel dengan hubungan kita terhadap cinta.
Tubuhku menyelinap lemas. Sekujur tubuhku dihinggapi rasa tak menentu. Perlahan keringat mulai bercucuran. Mata memuntahkan air ke dalam hati. Mata yang sama tertuju pada dua orang perempuan yang sedang masyuk dengan cinta. Mungkin karena jarak pertemuan yang jauh hingga saat bertemu mereka melepasnya tanpa beban seolah tak ada perempuan lain yang begitu perih melihat mereka bercengkrama.
Tubuh terasa kecut, nyali memudar menatap perempuanku. Sedikit penyesalan dengan pertanyaan: kenapa aku memberanikan diri di depan mereka? Mata ini semakin tersiksa melihatnya. Tak kuingkari, aku cemburu melihat perempuanku bersama perempuannya. Perempuanku menatap indah seakan berkata “Ini cinta dan hidupku selamanya. Jangan ganggu aku, kau hanya perempuan pelampiasan saat perempuanku tak di sisiku.” Ah… aku hanya tersenyum, mencoba menghibur diri sendiri bahwa perempuanku tak seburuk itu.
SEGERA TERBIT!
Un Soir du Paris
Satu Petang di Paris
Kumpulan Cerpen Pilihan Situs SepociKopi
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 30.000,-
Tebal: 144 halaman
Terbit: 9 September 2010

Masih heboh soal tetangga? Tetangga siapa lagi kalau bukan orang-orang yang rumahnya berdekatan. Kalau disuruh bertanya siapa saudara paling dekat? Maka saya akan menunjuk tetangga yang ada di depan rumah. Meskipun dengan tetangga lain tidak begitu akrab, namun saya memiliki tetangga dekat yang selalu menjadi bagian dari keseharian layaknya saudara. Ketika ibu datang dan saya tidak ada di rumah, maka saya akan menitipkan kunci pada tetangga di depan rumah itu untuk menyambut ibu dan memberikan kuncinya, sehingga beliau tidak perlu menunggu hingga saya pulang kerja. Well… gampang dan mudah.
Yang pasti hidup bertetangga itu memberikan banyak manfaat yang juga akan membantu kita melestarikan lingkungan. Semua jika dilakukan secara bersama-sama akan meringankan pekerjaan dan beban. Misalnya melakukan penghijauan di jalan menuju rumah kita, menghiasi taman, menjaga lingkungan dari sampah yang berserakan. Hal-hal seperti ini akan menciptakan lingkungan hidup yang damai dan harmoni. Kehidupan tetap membutuhkan interaksi dengan orang-orang di sekitar, bayangkan! Jika kita dekat dengan tetangga, bisa nebeng ke kantor, mencicipi oleh-oleh saat mereka kembali dari luar negeri. Mereka juga dapat ikut melindungi rumah dan memperhatikan orang yang mencurigakan.